Infestasi Cacing Ascarid pada Kucing

Cacing Ascarid merupakan salah satu parasit pencernaan yang sering ditemukan pada kucing. Cacing Ascarid termasuk ke dalam golongan nematoda (cacing gelang). Cacing tersebut mudah ditemukan di lingkungan tanah di sekitar kita sehingga beresiko menginfeksi kucing yang bermain di atasnya. Artikel kali ini akan membahas mengenai cacing Ascarid pada kucing.

cacing ascaridGambar 1. Cacing Ascarid Kucing Spesies Toxocara cati
Sumber: https://en.wikipedia.org/

Ascariasis (infestasi cacing Ascarid) pada kucing terutama disebabkan oleh cacing nematoda Toxocara cati dan Toxocara mystax. Predileksi cacing ascarid pada kucing ada di  usus halus. Telur cacing Toxocara berbentuk bulat berukuran 65 x 75 μm dan memiliki dua lapis dinding.

Daur hidup cacing Toxocara termasuk daur langsung. Telur cacing yang tergeletak di tanah dan mengandung larva infektif (stadium 2) sudah siap menginfeksi hewan yang rentan. Larva yang termakan akan bermigrasi kemudian menjadi larva stadium tiga dan bermigrasi ke paru-paru, tepatnya ke alveoli, bronkeolus, dan bronkus lalu ke trakea dan laring untuk kemudian masuk ke kerongkongan, lambung, dan usus. Pada infeksi janin, larva stadium dua dapat dorman (tidur panjang) di jaringan somatik dan bermigrasi untuk menginfeksi janin sekitar dua minggu sebelum kelahiran. Infeksi janin pada kucing jarang dilaporkan. Infeksi melalui susu sering dilaporkan pada kucing. Cacing dapat mengalami kondisi arrested developing larvae (perkembangan berhenti sejenak) dan berdiam di jaringan payudara yang kemudian dapat berubah menjadi larva stadium dua dan menginfeksi anak kucing yang meminum susu  induknya. Toxocara juga dapat menginfeksi melalui perantara hospes paratenik seperti, tikus,  mencit, kecoa, unggas, bahkan domba.

Migrasi larva cacing Toxocara menyebabkan kerusakan pada jaringan yang dilewatinya. Perjalanan larva cacing melalui hati dan paru-paru dapat menyebabkan timbunan cairan pada organ tersebut. Perjalanan larva lewat lambung dapat menyebabkan muntah dan dalam perjalanannya  melewati usus dapat menyebabkan sumbatan parsial maupun total. Gejala klinis penderita meliputi kelemahan umum, anemia, ekpresi muka sayu, mata berair, dan konjungtiva maupun mulutnya  tampak pucat. Migrasi larva melalui paru-paru dapat menyebabkan batuk, sesak nafas, dan  pneumonia ringan. Terkadang gejala tidak mau makan sangat mencolok.

Penanganan infestasi Toxocara dilakukan mulai dari diagnosis hingga terapi. Diagnosis cacing dilalukan dengan uji laboratorium. Diagnosis dapat didukung dengan riwayat pemeliharaan dan kasus ascariasis di lingkungan hewan penderita. Karena telur Toxocara berdinding tebal dan tidak mudah dimatikan, pengobatan harus diulang dalam 2-3 minggu dari pengobatan pertama.

Perilaku siklus alami cacing ascarid dapat menimbulkan berupa kerugian berupa gejala sakit pada hewan penderita dan mengganggu kesehatannya. Resiko kerugian dan sukarnya membersihkan lingkungan dari telur cacing mendorong kita untuk lebih berhati-hati dalam memilih lingkungan bermain untuk kucing peliharaan. Pemberian obat cacing yang rutin 3-6 bulan sekali membantu meminimalkan resiko infeksi. Sekian artikel kali ini, saran dan kritik yang membangun kami harapkan untuk pengembangan yang lebih baik.

Referensi
Subronto. 2010. Penyakit Infeksi Parasit dan Mikroba pada Anjing dan Kucing. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Disusun oleh:
drh. Praditya

attn